Sejarah perjuangan Sumatera & Kemerdekaan Federasi Sumatera Raya (FSR) adalah lanjutan alami dari perjuangan leluhur.

 Sejarah perjuangan Sumatera & Kemerdekaan Federasi Sumatera Raya (FSR) adalah lanjutan alami dari perjuangan leluhur.



1. Sumatera: Pusat Sejarah Nusantara

Dari dulu, Sumatera adalah jantung peradaban:

Sriwijaya (abad ke-7–13) → pusat ilmu & perdagangan internasional.

Samudera Pasai (abad ke-13) → kerajaan Islam pertama di Nusantara.

Aceh Darussalam (abad ke-16–17) → kekuatan besar melawan Portugis & Belanda.

Artinya: Sumatera sudah berdaulat jauh sebelum Indonesia berdiri.

“Kita bangsa tua, bukan anak bawang yang menumpang di negeri orang.”

2. Kontribusi Besar, Balasan Kecil

Minyak, gas, batubara, sawit, karet, emas → sebagian besar dari Sumatera.

Pajak & royalti disedot ke Jakarta, tapi jalan, sekolah, rumah sakit di Sumatera banyak yang tertinggal.

Bahkan listrik di Jawa dari batubara Sumatera, sementara rakyat Sumatera ada yang masih gelap gulita.

 “Kita kaya, tapi dibuat miskin. Kita pemilik, tapi diperlakukan tamu.”

3. Sejarah Perlawanan Sumatera

Teuku Umar, Cut Nyak Dhien, Sisingamangaraja XII, Tuanku Imam Bonjol → semua pejuang Sumatera.

Mereka lawan Belanda demi kedaulatan lokal, bukan demi Jakarta.

Bahkan setelah 1945, Aceh pernah menolak bergabung total karena janji pusat sering diingkari.

“Darah pejuang Sumatera tidak tumpah untuk dijadikan budak pusat.”

4. Kejenuhan terhadap Sentralisasi Jakarta

Semua keputusan besar, investasi, infrastruktur → dikendalikan dari Jawa.

Sumatera hanya jadi penyumbang, bukan penerima.

Pembangunan “Indonesia-sentris” = sebenarnya “Jawa-sentris”.

“Sampai kapan kita jadi sapi perahan Jakarta?”

5. Janji yang Tak Pernah Ditepati

Otonomi daerah hanya di kertas, tapi realita tetap dikendalikan pusat.

Hasil alam tetap mengalir keluar, rakyat tetap menunggu janji yang tak kunjung tiba.

“Kalau terus begini, anak cucu kita akan mewarisi penindasan yang sama.”


“Dulu, Sriwijaya dan Aceh berdiri gagah sebagai bangsa merdeka. Kini, saatnya kita menjemput kembali kedaulatan itu. Kita tidak melawan bangsa lain, kita hanya mengambil hak kita kembali. Federasi Sumatera Raya adalah jalan agar rakyat Sumatera tidak lagi jadi penonton, tapi jadi tuan di tanah sendiri.”

“Kita pewaris Sriwijaya & Aceh, bangsa besar yang harus kembali berdaulat.”

“Kita kaya tapi dibuat miskin. Kita yang bekerja keras, tapi orang lain yang hidup enak.”

“Dengan FSR, anak-anak kita bisa sekolah gratis, rakyat bisa hidup sejahtera, budaya kita dihormati.”

 “Kita bukan mau perang, kita hanya mau merdeka dengan kepala tegak.”

Ulasan

Catatan popular daripada blog ini